Search

. . . . . .Welcome To My Blog. . . . . . .

Assalamu'alaikum. . . .

Selamat datang di blog "sHiNeNicHy".....
Blog ini berisi kumpulan-kumpulan asuhan keperawatan,artikel-artikel serta catatan iseng saya...heheh... semoga blog ini bermanfaat bagi kita semua,khususnya bagi yang membutuhkan postingan dalam blog ini....
Thanks you very much......and Enjoy it!!!! :)

Sabtu, 10 Juli 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN TUMOR PARU

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Tumor adalah neoplasma pada jaringan yaitu pertumbuhan jaringan baru yang abnormal. Paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut dan letaknya didalam rongga dada. Jenis tumor paru dibagi untuk tujuan pengobatan, meliputi SCLC ( Small Cell Lung Cancer ) dan NSLC ( Non Small Cell Lung Cancer / Karsinoma Skuamosa, adenokarsinoma, karsinoma sel besar )
Karsinoma bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas. ( Hood Al sagaff, dkk 1993 )
Kanker paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian besar kanker paru berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga berasal dari bagian tubuh lain yang terkena kanker. ( Zerich 150105 Weblog, by Erich )

B. ETIOLOGI
( Amin Zulkifli, Ilmu Penyakit Dalam Ed. IV, hal 1005 )
Penyebab / faktor pendukung dari kanker paru, antara lain :
1.Merokok
2.Terpapar asap rokok
3.Paparan zat karsinogen ( asbestos, radiasi ion, radon arse )
4.Polusi udara
5.Genetik

C. PATOFISIOLOGI
( Zerich 150105′ weblog )
Sebab-sebab keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko terjadinya tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat intiation yang merangasang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk memicu timbulnya penyakit tumor.
Initiati agen biasanya bisa berupa nunsur kimia, fisik atau biologis yang berkemampuan bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari komponen genetik ( DNA ). Keadaan selanjutnya diakibatkan keterpaparan yang lama ditandai dengan berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya tumor, hal ini berlangsung lama meingguan sampai tahunan.
Kanker paru bervariasi sesuai tipe sel daerah asal dan kecepatan pertumbuhan. Empat tipe sel primer pada kanker paru adalah karsinoma epidermoid ( sel skuamosa ). Karsinoma sel kecil ( sel oat ), karsinoma sel besar ( tak terdeferensiasi ) dan adenokarsinoma. Sel skuamosa dan karsinoma sel kecil umumnya terbentuk di jalan napas utama bronkial. Karsinoma sel kecil umumnya terbentuk dijalan napas utama bronkial. Karsinoma sel besar dan adenokarsinoma umumnya tumbuh dicabang bronkus perifer dan alveoli. Karsuinoma sel besar dan karsinoma sel oat tumbuh sangat cepat sehigga mempunyai progrosis buruk. Sedangkan pada sel skuamosa dan adenokar. Paru merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut dan letaknya di dalam rongga dada atau toraksinoma prognosis baik karena pertumbuhan sel ini lambat.

D. MANIFESTASI KLINIK
manifestasi klinik pada penderita tumor paru yaitu (www mediaindonesia.co.id) :
a. Batuk yang terus menerus dan berkepanjangan
b. Napas pendek-pendek dan suara parau
c. Batuk berdarah dan berdahak
d. Nyeri pada dada, ketika batuk dan menarik napas yang dalam
e. Hilang nafsu makan dan berat badan

E. KOMPLIKASI
- Hematorak
- Pneumotorak
- Empiema
- Endokarditis
- Abses paru
- Atelektasis

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
( Barbara, Engram, hal.7, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah )
Pemeriksaan Penunjang
a.Foto dada menunjukkan sisi lesi
b.Analisis sputum untuk sitologi menyatakan tipe sel kanker
c.Skan tomografi komputer dan tomogram paru menunjukkan lokasi tumor dan ukuran tumor
d.Bronkoskopi dapat dilakukan untuk memperoleh sample untuk biopsi dan mengumpulkan hapusan
bronkial tumor yang terjadi dicabang bronkus
e.Aspirasi dengan janim dan biopsi jaringan paru dapat dilakukan jika pemeriksaan radiologi
menunjukan lesi di paru-paru perifer
f.Radionuklide scan terhadap organ-organ lain menentukan luasnya netastase ( otak, hepar tulang,
limpa )
g.Mediastinoskopi menentukan apakah tumor telah metastase telah metastase ke limfe mediastinum

G. PENATALAKSANAAN MEDIK
( At a Glance, Medicine, Patrisk Davey, hal. 203 )
1.Pembedahan, memiliki kemungkinan kesembuhan terbaik, namun hanya < 25% kasus yang bisa
dioperasi dan hanya 25% diantaranya ( 5% dari semua kasus ) yang telah hidup setelah 5 tahun.
Tingkat mortalitas perioperatif sebesar 3% pada lobektomi dan 6% pada pneumonektomi
2.Radioterapi radikal, digunakan pada kasus kanker paru bukan sel kecil yang tidak bisa dioperasi.
Tetapi radikal sesuai untuk penyakit yang bersifat lokal dan hanya menyembuhklan sedikit
diantaranya.
3.Radioterapi paliatif, untuk hemoptisis, batuk, sesak napas atau nyeri lokal
4.Kemoterapi, digunakan pada kanker paru sel kecil, karena pembedahan tidak pernah sesuai dengan
histologi kanker jenis ini. Peran kemoterapi pada kanker bukan sel kecil belum jelas.
5.Terapi endobronkia, seperti kerioterapi, tetapi laser atau penggunaan stent dapat memulihkan gejala
dengan cepat pada pasien dengan penyakit endobronkial yang signifikan
6.Perawatan faliatif, opiat terutama membantu mengurangi nyeri dan dispnea. Steroid membantu
mengurangi gejala non spesifik dan memperbaiki selera makan

H. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
- Bantu pasien untuk mencari posisi yang paling sedikit nyerinya
- Dalam tindakan psikologis kurangi ansietas dengan memberikan informasi yang sering, sederhana, jelas tentang apa yang sedang dilakukan untuk
- mengatasi kondisi dan apa makna respons terhadap pengobatan.

I. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
Keadaan umum: lemah, sesak yang disertai dengan nyeri dada.
2. Kebutuhan dasar:
- Pola makan : nafsu makan berkurang karena adanya sekret dan terjadi kesulitan menelan
(disfagia), penurunan berat badan.
- Pola minum : frekuensi minum meningkat (rasa haus)
- Pola tidur : susah tidur karena adanya batuk dan nyeri dada.
- Aktivitas : keletihan, kelemahan

3. Pemeriksaan fisik
- Sistem pernafasan
• Sesak nafas, nyeri dada
• Batuk produktif tak efektif
• Suara nafas: mengi pada inspirasi
• Serak, paralysis pita suara.
- Sistem kardiovaskuler
• tachycardia, disritmia
• menunjukkan efusi (gesekan pericardial)
- Sistem gastrointestinal
• Anoreksia, disfagia, penurunan intake makanan, berat badan menurun.
- Sistem urinarius
Peningkatan frekuensi/jumlah urine.
- Sistem neurologis
• Perasaan takut/takut hasil pembedahan
• Kegelisahan
4. Data Penunjang
- Foto dada, PA dan lateral
- CT scan/MRI
- Bronchoscope
- Sitologi
TTB, biopsy kelenjar getah bening leher.

B. Pengelompokan Data
1. Data Subjektif
Perasaan lemah, Sesak nafas, nyeri dada, Batuk tak efektif, Serak, haus, Anoreksia,
disfalgia, berat badan menurun, Peningkatan frekuensi/jumlah urine, Takut
2. Data Objektif
Batuk produktif, Tachycardia/disritmia, Menunjukkan efusi, Sianosis, pucat, Edema, Demam
Gelisah

DIAGNOSA KEPERAWATAN
( Doenges, Marylin, hal 191 dan Engram, Barbara ( Zerich 150105, weblog ))
1.Tidak efektif bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi bronkial sekunder karena invasi
tumor
2.Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penekanan saraf oleh tumor paru
3.Ketakutan / ansietas berhubungan dengan ancaman / perubahan status kesehatan
( Xerich. 150105’s weblog )
( Engtram, Barbara.1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Vol 1. Jakarta : EGC )

RENCANA KEPERAWATAN
( Doenges, Marilyn, dkk.2000.Rencana Asuhan Keperawatan. Ed. 3. Jakarta : EGC )
1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi.
Intervensi
1.Auskultasi dada untuk karakter bunyi napas atau adanya sekreat.
Rasional : Pernapasan bising, ronki dan menunjukkan tertahannya sekreat / obstruksi jalan napas
2.Observasi jumlah dan karakter sputum / aspirasi sekret. Selidiki jalan perubahan sesuai indikasi
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tidak berwarna ( atau berck darah 1 berair awalnya normal
dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan
3.Dorong masukan cairan per oral ( sedikitnya 2500 ml / hari ) dalam toleransi jantung.
Rasional : Hidrasi adekuat untuk mempertahankan sekreat hilang / peningkatan keluaran

4.Kaji nyeri / ketidak nyamanan dan obati dengan dosis rutin dan lakukan latihan pernapasan
Rasional : Mendorong pasien untu bergerak, batuk lebih efektif dan napas lebih dalam untuk
mencegah kegagalan napas. ( pernapasan )
5.Berikan atau bantu dengan IPPB, spirometriinsentif, meniup botol, drainase postural / perkusi
sesuai indikasi.
Rasional : Memperbaiki ekspansi paru / vemntilasi dan mudahkan pembuangan sekret.
Catatan : Drainase postuural dapat dikotraisdikasikan pada beberapa pasien dan pada setiap
kejadian harus dilakukan untuk mencegah gangguan pernapasan dan ketidaknyamanan insisi.
6.Gunakan oksigen, humidifikasi / nebuliser. Berikan cairan tambahan melalui IV sesuai indikasi
Rasional : Memberikan hidrasi maksimal membantu penghilangan / pengenceran sekret untuk
meningkatkan pengeluaran

2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan penekaran saraf oleh tumor paru
Intervensi
1.Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri ( P,Q,R,S,T ) misal : terus-menerus,
sakit menusuk, terbakar. Buat skala nyeri 0-10 rentang intensitasnya.
Rasional : Membantu dalam mengevaluasi gejala nyeri karena kanker yang dapat melibatkan
visera, saraf atau jaringan tulang. Penggunaan skala rentang membantu pasien dalam
mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat unutk evaluasi keefektifan analgetik,
meningkatkan kontrol nyeri
2.Kaji pertanyaan verbal dan non verbal nyeri pasien
Rasional : Ketidak sesuaian antara petunjuk verbal atau non verbal dapat memberikan petunjuk
derajat nyeri, kebutuhan / keefektifan intervensi
3.Berikan tindakan kenyamanan. Misal : sering ubah posisi, pijat punggung, sokongan bantal,
dorong penggunaan teknik relaksasi, misal : visualisasi, bimbingan imajinasi danaktivitas hiburan
yang tepat.
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian. Menghilangkan ketidak nyamanan
dan meningkatkan efek terapeutik analgesik
4.Bantu aktivitas perawatan diri, pernapasan / latihan tangan dan ambulasi
Rasional : Mencegah kelemahan yang tidak perlu dan regangan insisi
Mendorong dan membantu fisik mungkin diperlukan untuk beberapa waktu sebelum
pasien merasa percaya diri untuk melakukan aktivitas ini karena nyeri atau takut nyeri
5.Berikan analgetik rutin sesuai indikasi, khususnya 45-60 menit sebelum tindakan napas dalam /
latihan batuk. Bantu sengan PAC atau analgesik melalui kateter epidural.
Rasional : Mempertahankan kadar obat lebih konstan menghindari “ puncak ” periode nyeri, alat
dalam menyembuhkan otot dan memperbaiki fungsi pernapasan dan kenyamann /
koping emosi

3. Ketakutan / ansietas berhubungan dengan ancaman / perubahan status kesehatan
Intervensi
1.Evaluasi tingkat pemahaman pasien / orang terdekat tentang diagnosa
Rasional : Pasien atau orang terdekat mendengar atau mengasimilasi informasi baru yang
meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup
2.Akui rasa takut / masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
Rasional : Dukungan memampukan pasien membuka / menerima kenyataan kanker dan
pengobatan
3.Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan
pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama.
Rasional : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi atau salh interprestasi
terhadap informasi

4.Terima penyangkalan pasien tapi jangan dikuatkan
Rasional : Bila penyangkalan ektrim atau ansietas mempengaruhi kemajuan penyembuhan,
menghadapi isu pasien perlu dijelaskan dan membuka cara penyelesaian
5.Catat komentar atau perilaku yang menunjukkan menerima dan atau menggunakan strategi
efektif menerima situasi
Rasional : Takut atau ansietas menurun, pasien mulai menerima / secara positif dengan
kenyataan. Indiokator kesiapan pasien untuk menerima tanggung jawab untuk
berpartisipasi dalam penyembuhan dan untuk berpartisipasi dalam penyembuhan dan untuk mulai hidup lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaaaff, Hood. dkk. 1993. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : AirLangga University Press.
Amin, Zulkifli. 1996. Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. Jilid II. Jakarta : Erlangga
Davey, Patrick. 2003. At a Glance Medicine. Jakarta : Erlangga.
Doengoes, Marylin. dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S. Jakarta :
EGC
Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I. Jakarta : EGC

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN HIRSCHPRUNG

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI

Penyakit Hirschprung atau Mega Kolon adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus dan kebanyakan terjadi pada bayi aterm dengan 3 kg, lebih banyak laki – laki daripada perempuan. ( Arief, Mansjoer, 2000 ).

Hirschprung adalah penyakit yang tidak adanya sel – sel ganglion dalam rectum atau bagian rektosigmoid colon. Dan ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan. ( Betz, Cecily & Sowden, 2000 ).

Hirschprung adalah ketiadaan kongenital ganglion otonom yang mempersarafi pleksus mienterikus ditaut antorektum dan seluruh atau sebagian rektum dan kolon ganglion otonom ke pleksus mienterikus secara normal merangsang motilitas dan memastikan penyaluran tinja. Pada penyakit hirschprung, tinja menumpuk di usus. ( Crowin, J, EL, Zabeth, 2000:533 )

Penyakit Hirschprung adalah suatu kelainan tidak adanya sel ganglion parasimpatis pada usus, dapat dari kolon sampai pada usus halus.

( Ngastiyah,1997:138 )

B. MACAM – MACAM PENYAKIT HIRSCHPRUNG

Berdasarkan panjang segmen yang terkena, dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu :

1. Penyakit Hirschprung segmen pendek

Segmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid; ini merupakan 70% dari kasus penyakit Hirschprung dan lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibanding anak perempuan.

2. Penyakit Hirschprung segmen panjang

Kelainan dapat melebihi sigmoid, bahkan dapat mengenai seluruh kolon atau usus halus. Ditemukan sama banyak pada anak laki maupun prempuan.

(Ngastiyah, 1997 : 138)

C. ETIOLOGI

1. Mungkin karena adanya kegagalan sel-sel ”Neural Crest” ambrional yang berimigrasi ke dalam dinding usus atau kegagalan pleksus mencenterikus dan submukoisa untuk berkembang ke arah kranio kaudal di dalam dinding usus.

2. Disebabkan oleh tidak adanya sel ganglion para simpatis dari pleksus Auerbach di kolon.

3. Sebagian besar segmen yang aganglionik mengenai rectum dan bagian bawah kolon sigmoid dan terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan pada kolon.

4. Sering terjadi pada anak dengan ”Down Syndrome”.

5. Kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi kraniokaudal pada nyenterik dan submukosa dinding pleksus.

(Suriadi, 2001 : 242).

D. MANIFESTASI KLINIS

1. Kegagalan lewatnya mekonium dalam 24 jam pertama kehidupan.

2. Konstipasi kronik mulai dari bulan pertama kehidupan dengan terlihat tinja seperti pita.

3. Obstruksi usus dalam periode neonatal.

4. Nyeri abdomen dan distensi.

5. Gangguan pertumbuhan.

(Suriadi, 2001 : 242)

6. Obstruk total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evaluai mekonium.

7. Keterlambatan evaluasi mekonium diikuti obstruksi periodic yang membaik secara spontan maupun dengan edema.

8. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut.

9. Konstruksi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen dan demam. Diare berbau busuk dapat menjadi satu-satunya gejala.

10. Gejala hanya konstipasi ringan.

(Mansjoer, 2000 : 380)

· Masa Neonatal :

a. Gagal mengeluarkan mekonium dalam 48 jam setelah lahir.

b. Muntah berisi empedu.

c. Enggan minum.

d. Distensi abdomen.

· Masa bayi dan anak-anak :

a. Konstipasi

b. Diare berulang

c. Tinja seperti pita, berbau busuk

d. Distensi abdomen

e. Gagal tumbuh

(Betz, 2002 : 197)

E. PATOFISIOLOGI

Istilah congenital aganglionic Mega Colon menggambarkan adanya kerusakan primer dengan tidak adanya sel ganglion pada dinding sub mukosa kolon distal. Segmen aganglionic hampir selalu ada dalam rectum dan bagian proksimal pada usus besar. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalan atau tidak adanya gerakan tenaga pendorong ( peristaltik ) dan tidak adanya evakuasi usus spontan serta spinkter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga mencegah keluarnya feses secara normal yang menyebabkan adanya akumulasi pada usus dan distensi pada saluran cerna. Bagian proksimal sampai pada bagian yang rusak pada Mega Colon. ( Betz, Cecily & Sowden, 2002:197).

Semua ganglion pada intramural plexus dalam usus berguna untuk kontrol kontraksi dan relaksasi peristaltik secara normal.
Isi usus mendorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul didaerah tersebut, menyebabkan terdilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu karena terjadi obstruksi dan menyebabkan dibagian Colon tersebut melebar ( Price, S & Wilson, 1995 : 141 ).

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Biopsi isap, yakni mengambil mukosa dan submukosa dengan alat penghisap and mencari sel ganglion pada daerah submukosa.

2. Biopsy otot rectum, yakni pengambilan lapisan otot rectum, dilakukan dibawah narkos. Pemeriksaan ini bersifat traumatic.

3. Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin dari hasil biopsy asap. Pada penyakit ini klhas terdapat peningkatan aktivitas enzim asetikolin enterase.

4. Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus.

(Ngatsiyah, 1997 : 139)

5. Foto abdomen : untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.

6. Enema barium : untuk mengetahui adanya penyumbatan pada kolon.

7. Biopsi rectal : untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion.

8. Manometri anorektal : untuk mencatat respons refleks sfingter interna dan eksterna.

(Betz, 2002 : 197).

G. KOMPLIKASI

1. Gawat pernapasan (akut)

2. Enterokolitis (akut)

3. Striktura ani (pasca bedah)

4. Inkontinensia (jangka panjang)

(Betz, 2002 : 197)

5. Obstruksi usus

6. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit

7. Konstipasi

(Suriadi, 2001 : 241)

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

Tanggal :

Oleh :

Jam :

No. CM :

1. IDENTITAS

a. Identitas pasien

Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

b. Identitas penanggung jawab

Nama :

Umur :

Jenis kelamin :

Alamat :

2. Riwayat kesehatan

a. Keluhan utama

Klien tidak dapat buang air besar selama 3 hari.

b. Riwayat kesehatan sekarang

An. A masuk ke Rumah Sakit dengan keluhan perut membesar, tidak dapat BAB selama 3 hari, anoreksia, kembung. Pada saat dilakukan pengkajian oleh perawat didapatkan suhu 38 oC, RR 25 x/menit dan nadi 35 x/menit.

c. Riwayat kesehatan dahulu

Orang tua klien mengatakan klien sering mengalami konstipasi sebelumnya.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Orang tua klien mengatakan pada keluarga klien tidak terdapat anggota keluarga yang memiliki penyakit seperti klien.

e. Riwayat alergi

Orang tua klien mengatakan klien tidak mempunyai riwayat alergi terhadap apapun.

3. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

Kesadaran : compos mentis

Tanda-tanda vital :

TD :

S : 38 oC

RR : 25 x/menit

Nadi : 35 x/menit

b. Sistem pernafasan

Frekuensi pernafasan klien 25 x/menit. Pernafasan klien teratur, klien bernafas melalui hidung. Pada saai di inspeksi tidak terdapat pernafasan cuping hidung, bunyi nafas klien bersih dan tidak terdapat sekret.

c. Sistem penglihatan

Pada sat dikaji penglihatan klien baik, kunjungtiva an enemis, sklera an ikhterik, pupil isokor, bola mata klien simetris.

d. Sistem pendengaran

Pada saat dikaji pendengartan klien bai. Pada saat di inspeksi tidak terdapat serumen pada telinga klien, telinga klien bersih.

e. Sistem pengecap

Pada sat dikaji bibir klien merah muda, lembab dan simetris. Pengkajian pada pengecapan rasa tidak dikaji.

f. Dada

Pada saat dikaji dada klien simetris an tidak terdapat reflek dada.

g. Sistem kardiovaskuler

Pada saat diauskultasi bunyi jantung klien teratur. Nadi klien 35 x/menit.

h. Abdomen / sistem pencernaan

Pada saat diinspeksi bentuk abdomen klien buncit, ketika dipalpai terasa tegang. Klaen belum BAB selama 3 hari

i. Sistem perlkemihan

Tidak terdapat gangguan sistem urinari. Warna urine klien kuning jernih

j. Genetalia

Tidak terdapat tanda peradangan dan pembengkakan. Terdapat rectum yang terbuka.

k. Integumen

Kulit klien lembab, turgor kulit baik, tidak terdpat eritema dan edema

l. Ekstremitas

Pada ekstremitas kanan atas terpasang infuse, ekstremitas atas bawah lengkap dan tidak terdapat kelainan.

4. Pemeriksaan Diagnostik

a. Foto abdomen : terlihat usus-usus memlebar, terdapat obstruksi rendah

b. X-ray

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan eliminasi (BAB) b.d konstipasi

2. Infeksi colon b.d peningkatan bakteri

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia

4. Gangguan rasa nyaman : abdomen membuncit b.d penimbunan feses di abdomen.

C. INTERVENSI

1. Gangguan eliminasi (BAB) b.d konstipasi

Intervensi :

1. kaji warna, jumlah, konsistensi, dan frekuensi feses

2. auskultasi bising usus

3. monitor intake dan output

4. diskusikan penggunaan pelunak feses dan pemberian enema bila diperlukan

5. kolaborasi konsultasi dengan ahli gizi untuk mengatur makanan yang seimbang dan tinggi serat

Rasional :

1. membantu dalam mengidentifikasi penyebab dan faktor yang mempengaruhi, serta membantu dalam menentukan intervensi yang tepat

2. bising usu biasanya meningkat pada saat konstipasi

3. membantu mengidentifikasi dehidrasi dan kekurangan nutrisi

4. memfasilitasi defeksi saat konstipasi terjadi

5. serat dapat menyerap cairan dan membuat fese menjadi solid dan akhirnya menstimulasi defekasi

2. Infeksi colon b.d peningkatan bakteri

Intervensi :

1. pantau TTV, perhatikan peningkatan suhu

2. berikan informasi tentang penyakit yang tepat, jujur pada pasien / orang terdekat

3. kolaborasi pengambilan contoh drainase bila diindikasikan

4. kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi

Rasional :

1. suhu malam hari memuncak yang kembali normal pada pagi hari adalah karakteristik infeksi

2. pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas

3. kultur pewarnaan gram dan sensivitas berguna untu mengidentifikasi organisme penyebab dan pilihan terapi

4. diberikan secara profilatik . menurunkan jumlah organisme untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhan pada rongga abdomen

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia

Intervensi :

1. buat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian

2. timbang berat badan setiap hari

3. dorong tirah bring atau pembatasan aktivitas selama fase akut

4. catat intake dan output makanan klien

5. kolaborasi pemberian cairan parenteral

6. pemberian obat sesuai indikasi (Siprokeptadin, anti depresan trisilik)

Rasional :

1. malnutrisi adalah ganguan minat yang menyebabkan depresi, agitas dan mempengaruhi fungsi kognitif / pengambilan keputusan. Perbaikan status nutrisi meningkatkan kemampua berfikir dan kerja psikologis

2. memberikan informai tentang kebutuhan diit / keefektifan terapi

3. menurunkan +kebutuha metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi

4. mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi

5. mempertahankan istirahat usus klien, mencukupi kebutuhan nutrisi

6. untuk merangsang nafsu makan

4. Gangguan rasa nyaman : abdomen membuncit b.d penimbunan feses di abdomen.

Intervensi :

1. kaji terhadap rasa nyeri

2. berikan tindakan kenyamanan : nafas dalam, teknik relaksasi dan distraksi

3. berikan suasana/lingkungan yang tenang dan nyaman

4. kolaborasi pemberian obat analgesik sesuai indikasi

Rasional :

1. membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan / perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi dan keefektifan intervensi

2. meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian

3. menurunkan stimulasi yang berlebihan yang dapat mengurangi rasa tidak nyaman

4. untuk mengurangi rasa nyeri

DAFTAR PUSTAKA

Arif M, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid 2, Media Aesculapius,Jakarta:FKUI

Cecily. L Betz, 2002, Buku Saku Keperawatan Pediatri, Alih bahasa Jan Tambayong,Jakarta: EGC
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 1985, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 1, Jakarta
: Infomedika
Sodeman, 1995, Patofisiologi Sodeman : Mekanisme Penyakit, Editor, Joko Suyono, Jakarta
: Hipocrates